[TWOSHOOT] Love you, my fierce’s girl

Standar

Title : Love you, my fierce’s girl

Main Cast :
° Park Jiyeon (T-ARA)
° Shik Gongchan (B1A4)

Other Cast : Find at the story.

Genre : Romance

Rating : PG 15+

Length : Oneshoot

Disclaimer : Just own the story.

A/N : ANNYEONG HASEEYOO READERS-KU TERCINTA! Kali ini aku bawa lagi nih Oneshoot tentang Jiyeon. Mian yaa.. Kalo ceritanya tentang Jiyeon terus. Soalnya.. Yah.. Yah.. FF-ku emang gak bisa lepas dari nama Jiyeon. Okeey.. tujuan saya buat ff ini, karena Cold or shy.. boy?-nya belum jadi u.u *digampar readers*. Daripada author gag ngepost apa-apa, lebik baik ngepost ini dulu kan? Hehe.. selamat menikmati readers ^^

Author POV

“Lepaskan aku, Choi Minho! Kau kira aku apa huh, sampai kau meminta seperti itu padaku ?!”

“Tapi.. Kau yeojachinguku !”

“Aku tidak serendah itu, Choi Minho !”

Yeoja itu baru saja akan pergi, tapi ternyata namja yang menjadi lawan bicaranya itu, menariknya kembali ke tempatnya.

“Kau mau kemana, huh ?”

“Ya! Lepaskan aku !”

Plaaak! Dengan sebelah tangannya, yeoja itu sukses membuat berkas merah di pipi namja itu.

“Kau.. Kau berani padaku, huh !?” wajah namja itu terlihat merah. Dan bicaranya juga terdengar garang. Sepertinya ia marah.

“Kalau iya, memang kenapa? Mulai sekarang, kita sudah tak ada hubungan apa-apa lagi. Kita putus, Choi Minho !” dengan sekuat tenaga, yeoja itu berusaha melepaskan tangan namja yang dipanggil Choi Minho. Dan berhasil!

“Geurae! Kita putus! Aku tak membutuhkan yeoja sepertimu! Rasakan pembalasanku nanti, Park Jiyeon !” Minho meneriaki Jiyeon yang sudah berlari meninggalkannya.

“I Dont Care,” gumam Jiyeon. Ia berlari sambil menunduk, hingga tak sadar bahwa ada seorang namja yang juga tengah berjalan berlainan arah dengannya.

Bruuk! Jiyeon tepat menabrak namja itu. Sehingga membuat orang itu dan barang bawaanya jatuh ke lantai.

“Aish.. Makanya kalau jalan lihat-lihat dong !” tanpa merasa bersalah sama sekali, Jiyeon memarahi namja itu dan kembali melanjutkan larinya.

Author POV End
___

Gongchan POV

Bruuk! Aaw.. Sakit! Aish.. Siapa juga yang menabrakku ini?

“Aish.. Makanya kalau lihat jalan-jalan dong !” ku mendongakkan kepalaku. Melihat orang yang telah menabrak, dan tanpa merasa bersalah sama sekali, tega memarahi korbannya.

Mwo? Aigo! Itu kan Park Jiyeon? Kulihat sekilas tadi ia seperti menangis. Kenapa dengan yeoja itu? Ia kan yeoja yang terkenal pantang menangis. Tapi kenapa ia menangis?
___

Author POV

“JINJJA ??” Hyoyoung menggebrak meja yang ada di depannya kesal.

“Benarkah ia memperlakukanmu seperti itu ?!” tanya Hyo memastikan.

“Ne,” sahut Jiyeon singkat sambil meneguk cola kalengnya.

“Haha. Dasar nappeun namja,” timpal Hyun-a.

“Yup! Dan sialnya, aku menangis gara-gara itu.”

“Jinjja? Heey… Kau tahu, pantangan kita kan? Kita tidak boleh menangis di depan umum,” ujar Hyo.

“Tenang saja. Aku tidak menangis di depannya kok,”

“Baguslah. Oh ya, aku pergi dulu ya. Junhyung sudah meng-sms-ku nih,” ujar Hyun-a.

“Okey. Hey, hati-hati dengan Junhyung. Bisa-bisa ia seperti Minho lagi. Keke..” sahut Hyoyoung disertai dengan kekehannya.

“Tidak akan. Semenakutkan apapun wajah Junhyung, ia tak brengsek seperti Minho.” cetus Hyun-a sambil melirik Jiyeon. Namun Jiyeon, hanya menanggapinya dengan santai.

“Haha! Arraseo, arraseo. Kau pergi saja, jangan menggoda Jiyeon.” kata Hyoyoung.

“Nah… Sekarang, kau temani aku beli ice cream di kantin ya, Park Jiyeon…” ajak Hyoyoung.

“Ne. Kkaja !”

Itulah mereka. Hyun-a, Jiyeon dan Hyoyoung. Mereka adalah salah satu geng yang paling terkenal di sekolah. Bukan karena apa. Mereka terkenal karena kepantangannya terhadap satu hal. Menangis. Menangis di depan umum. Mereka sangat pantang terhadap hal itu. Mereka juga terkenal dengan kegalakannya. Tapi, meskipun galak dan semacamnya, mereka tak pernah menyakiti fisik seseorang. Mungkin kalau menyakiti hati seseorang, itu sudah sangat sering mereka lakukan. Selain itu, mereka juga cantik. Oleh karena itu, tak sedikit juga namja yang tak kenal pantang menyerah mendekati mereka. Meskipun mereka galak.

Sejujurnya mereka jadi seperti itu, karena suatu hal. Mereka tak mau terlihat lemah. Asal kalian tahu, saat SMP, mereka sebenarnya hanya yeoja-yeoja lemah, yang selalu menangis dan memberontak bila diputuskan oleh namjachingunya. Oleh karena itu, saat SMA mereka telah membulatkan tekat, agar hal seperti itu tak terulang lagi. Dan, jadilah mereka seperti ini.
___

Jiyeon POV

“Hei, Jiyeon. Prom Nite nanti, kamu bakalan pergi sama siapa ?” tanya Hyoyoung sambil menyomot snack kentangku. Sekarang kami sedang ada di salah satu mall terbesar di Seoul.

“Mollaseo. Mungkin aku tidak akan pergi,”

“Kenapa begitu ?”

“Aku kan tidak punya pasangan. Mau pergi dengan siapa ku disana ?”

“Kau harus pergi, Jiyeon. Nanti akan aku kenalkan kau dengan Yoseob. Temannya Junhyung,” timpal Hyun-a yang berada di sebelah kiriku. Aku memang selalu ditengah, kalau berjalan dengan mereka berdua.

“Yoseob? Yang Yoseob maksudmu? Ya! Dia itu tetanggaku. Bisa mati diledek aku sama dia, kalau aku tidak punya pasangan, dan malah pergi bareng dia. Sudahlah, aku tidak mau. Kalian saja yang pergi,” ujarku panjang lebar.

“Jinjja? Kalau dengan Seung Ho, mau ?” goda Hyoyoung. Ia mengangkat sebelah alisnya.

“Seungho? Eum… Eum…”

“Aah… Kau pasti menerimanya. Dia kan idolamu semenjak masuk SMA. Aku akan memberitahunya nanti. Kau tenang saja,” ujar Hyoyoung sambil merangkul bahuku.

Ku hanya tersenyum tipis menanggapinya. Itu memang benar. Siapa juga yang tak mau pergi dengan ketua osis yang tampan dan pintar itu? Hahaha…

“Kau akan pergi kan? Kau sudah punya pakaiannya belum ?” tanya Hyun-a.

“Belum…” sahutku polos.

“Haah… Aigo! Kenapa wajahmu itu lucu sekali dengan ekspresi seperti itu, huh ? Kkaja! Kita beli pakaianmu sekarang,” Hyun-a menarikku ke salah satu butik di mall itu.

“Hyo, kau cari di sebelah sana. Aku akan cari di sebelah sana. Dan kau… Kau duduk saja disini. Arraseo ?” perintah Hyun-a.

“Ne…” sahutku seraya duduk di kursi terdekat. Selera mereka lebih tinggi dariku. So, biarkanlah mereka cari sendiri.

“Hyaa! I got the beautiful one! Look at this, Jiyeon !” Hyoyoung mepampangkan sebuah dress yang… Aaah! Aku sendiri tidak bisa mendeskripsikannya. Feminim, simple, dan cute semuanya menyatu di dress ini. Selera mereka memang bagus.

“Mana? Mana ?” Hyun-a berlari dari tempatnya, ke tempatku.

“Aigo… Neomu yeppeo! Ayo coba, Jiyeon-ah!” Hyun-a menarikku masuk ke dalam ruang ganti, diikuti oleh Hyoyoung.

Aku hanya bisa pasrah. Lagipula aku juga sudah tak sabar memakai dress indah itu.
___

Gongchan POV

Aish… Jinjja! Kenapa di tempat seperti ini aku harus bertemu dengan salah satu yeoja galak, si Hyoyoung itu.

Dasar yeoja aneh ! Seenaknya saja ia mengambil dress yang jelas-jelas sudah di tanganku. Apa dia gila huh? Kenapa juga butik ini besar sekali dan banyak pengunjungnya? Perasaan saat ku datang tak sebanyak ini. Aku kan jadi susah menemukan yeoja itu !

Setelah berhasil menerobos kumpulan para ahjumma-ahjumma, akhirnya… Gotcha! Ku temukan Hyoyoung dengan… Kalau tak salah namanya Hyun-a. Mereka sedang berdiri di depan ruang ganti.

“Jiyeon-ah… Sudah belum ?” teriak Hyoyoung.

Jiyeon? Park Jiyeon juga ada? Haah… Itu sudah pasti, Gongchan. Ketiga yeoja itu akan selalu bersama dimana saja.

“Ne… Aku keluar !”

Pintu ruang ganti itu terbuka. Seorang yeoja keluar dari dalamnya. Kupandangi ia dari kaki hingga kepalanya. A-aigo… Itu… Itu… Park Jiyeon, kan? Itu Park Jiyeon yang tak pernah bersikap manis di hadapan orang? Kenapa… Kenapa dia yang memakai dress itu. Dan kenapa dia terlihat sangat cantik ?

“Aigo! Neomu yeppeo! Kau cocok sekali memakainya, Jiyeon-ah !” seru Hyoyoung.

“Ne. Sekarang kau cepat ganti lagi. Setelah itu langsung kita bayar,” ujar Hyun-a.

“Ne !” Jiyeon masuk lagi dan keluar dengan memakai bajunya sendiri.

Saat mereka melewatiku, entah sengaja atau tidak sengaja, si Hyoyoung itu menabrakku. Sehingga membuatku terjatuh, dan kacamata tebal-ku terlepas.

“Ooh.. Sorry.. That my fault,” ucap Hyoyoung dengan nada meledek, diikuti dengan tawa Hyun-ah di belakangnya.

“Mianhae,” kutolehkan kepalaku ke samping. Park Jiyeon? Dia kah yang mengatakan kata itu? Kulihat ia sedang berjongkok sambil mengambil kacamata tebalku yang tergeletak di lantai.

“Maafkan mereka. Mereka sebenarnya orang baik. Hanya sedikit iseng,” ujarnya sambil tersenyum. Ia meraih tanganku, kemudian memberikan kacamata itu.

“Sudah ya. Aku pergi dulu,” yeoja itu bangkit kemudian menyusul teman-temannya.

Dan sebelum ia benar-benar menghilang, ia sempat melambaikan tangan dan tersenyum padaku.

DEG! Kenapa jantung-ku jadi berdebar-debar seperti ini? Tidak mungkin kan aku suka padanya? Mungkin aku hanya kaget saja karena baru pertama kali melihatnya tersenyum semanis itu.
______

“Aku pulang…” ku membuka pintu rumahku dengan lesu.

“Gongchan? Darimana saja kau ?”

“Mwo? Aah.. Bukan dari tempat yang penting,” sahutku sambil duduk di sofa yang ada di ruang tengah.

“Oh,” orang yang bertanya itu hanya meng-oh-riakan jawabanku. Ia noonaku satu-satunya, Hyomin.

“Hey! Kenapa kau masih memakai kacamata tebal dan pakaian tebal seperti ini ?” Hyomin noona duduk di sampingku seraya mengambil cemilan yang ada di atas meja.

“Wae? Aku memang ingin memakai yang seperti ini,” sahutku datar.

“Tapi ini kan bukan gayamu..”

“Memangnya kenapa, noona? Aku sudah bosan menjadi orang keren selama 17 tahun. Sekali-kali aku ingin mencoba gaya baru. Apalagi di sekolah-ku yang baru itu. Kalau aku jadi orang keren, mungkin saja setiap orang yang ada disana akan pingsan setelah melihatku..”

“Pede! Sudahlah! Yang penting, kau tak berpakaian seperti ini untuk selamanya. Noona tak mau melihatnya !” Hyomin noona beranjak dari kursi dan masuk ke dalam kamarnya.

“Bilang saja kalau kau malu, noona !”
_____

Jiyeon POV

“Mwo? Aku tak mau, appa !”

“Aku tak mau kuliah di luar negeri! Aku tak ingin meninggalkan eomma..”

“Appa yang sudah meninggalkan eomma! Kenapa aku harus menemani appa disana? Tinggal saja dengan istri appa itu !”

Klik. Ku mematikan handphoneku secara kasar.

Aku tak habis pikir. Orang itu.. Orang itu.. Ia yang sudah meninggalkan aku dan eomma. Ia yang sudah menyakiti hatiku dan hati eomma. Kenapa sekarang ia malah memintaku untuk tinggal dan sekolah di tempatnya? Ia kan sudah punya wanita selingkuhannya itu. Kenapa harus memintaku untuk tinggal dengannya? Dasar! Apa ia tak pernah berfikir kalau dia itu sudah berbuat salah?

Tees. Tanpa kusadari setetes airmata telah keluar dari sudut mataku.

Haah.. Aku tak bisa menahan airmataku. Apakah ada yang melihatku?

Ku menoleh ke kanan dan ke kiri. Untungnya tidak ada orang disini.

Perlahan ku menaiki tangga untuk ke atap. Ya, atap sekolah. Mungkin di tempat itu, aku bisa melepaskan semua amarahku.

Baru saja ku membuka pintu, angin sepoi-sepoi sudah menerpa wajahku. Sejuk sekali. Disinilah tempat aku, Hyoyoung maupun Hyuna, bila ingin menumpahkan airmata kami. Disini tempat yang cukup aman untuk menangis.

“APPA JAHAT! APA KAU TIDAK PERNAH MERASAKAN PERASAAN KAMI?! SEENAKNYA SAJA KAU MENINGGALKAN KAMI! DAN SEKARANG KAU MEMINTAKU UNTUK TINGGAL BERSAMAMU DAN PELACUR ITU?? AKU TIDAK AKAN PERNAH SUDI! TIDAK AKAN PERNAH SUDI! INGAT ITU !”

“Hhh.. Hh.. Hiks.. Hh.. Hh..”

Kubiarkan airmata mengalir deras di wajahku. Hatiku benar-benar sakit bila mengingat kejadian bertahun-tahun lalu itu. Mudah-mudahan tak ada yang melihatku sedang menangis disini.
_____

Author POV

“Ck! Aigo.. Ternyata lelah juga menjadi anak culun itu. Disuruh membawa ini dan itu, Dijahilin oleh anak-anak. Mentang-mentang aku berpenampilan culun! Lihat saja kalau aku sudah kembali menjadi Gongchan yang sebenarnya, kalian pasti akan terpana melihatku !” Gongchan ber-monolog sendiri di koridor sepi itu. Ia melepaskan 2 kancing atas kemejanya, juga kacamata tebal yang seharian ini sudah dipakainya.

“Lama-lama aku tak tahan berpenampilan seperti ini. Sepertinya aku memang harus menuruti permintaan kakak,”

Gongchan menaiki tangga yang langsung menuju ke arah atap. Dan pada saat ia membuka pintu, matanya langsung tertuju pada sesosok yeoja yang sedang duduk meringkuk di sudut atap.

“Park Jiyeon ??”
_____

Gongchan POV

Omo.. Aku tidak salah lihat kan? Itu.. Si Park Jiyeon kan? Buat apa dia disini? Sendirian lagi. Aigo! Apa jangan-jangan ia ingin….

Aah… Ahni ahni! Jangan berpikir yang aneh-aneh Gongchan!

Akhirnya kuputuskan untuk mendekati Jiyeon. Tapi sebelum itu aku kembali mengancingkan kemejaku serta memakai kembali kacamata tebal ini.

Setelah berada dekat dengannya, dengan ragu-ragu ku menepuk pundaknya.

Ia menoleh ke arahku. Dan betapa kagetnya aku saat melihat wajahnya basah dengan butiran-butiran krystal yang dihasilkan oleh matanya sendiri.

“Kau… Kau… Sedang apa kau disini ??” ia nampak kaget dengan kehadiranku. Sedikit demi sedikit, ia menjauhkan dirinya dariku.

“A-aku… Aku memang ingin kesini. Dan tidak sengaja, aku melihatmu..”

“Be-benarkah? Hh.. Hh.. Huwaaaa.. Huwaa…”

“Ya… Ya! Kenapa kau tambah menangis?? Salahku apa ??”

Aigo… Bagaimana ini? Aku tak bisa memenangkan yeoja yang sedang menangis.. Noona-ku saja kalau sedang sedih karena pacarnya, tak pernah kugubris! Sekarang aku harus buat apa dengan yeoja ini? Ya Tuhan.. Tolong aku..
_______

Huff… Akhirnya yeoja ini tenang juga. Kulirik jam tanganku sekilas, ckck! Ternyata butuh waktu sejam untuk menenangkan yeoja ini.

“Hiks.. Hh.. Namamu siapa.. Hiks..” tanyanya yang masih tersedu-sedu.

“Na-namaku? Namaku, Gongchan. Shik Gongchan,”

“Gongchan-sshi.. Tolong rahasiakan hal ini ya ?”

“Rahasiakan apa ?”

“Tolong rahasiakan hal ini. Jangan bilang siapa-siapa kalau aku sedang menangis disini,” pintanya. Ia menoleh padaku seraya menatapku dalam.

Deg!

“Ba-baik. Aku akan merahasiakannya,” ucapku gelagapan.

Kenapa aku jadi gugup seperti ini? Melihatnya seperti itu, jantung-ku jadi berdebar-debar. Matanya yang sembap dan sayu, serta hidungnya yang memerah, membuat ia terlihat lebih cantik dimataku.

“Gomawo. Mm… Gongchan-sshi, bolehkah aku meminjam pundakmu sebentar ?”

“Ne? Aah… Tentu saja !” Ups! Ya… Shik Gongchan! Kenapa kau langsung berkata begitu?? Bagaimana kalau ia mendengar detak jantungmu?

“Gongchan-sshi.. Kalau tidak salah.. Kau orang yang ditabrak temanku di butik kan ?” ujarnya yang sudah sukses mendaratkan kepalanya dibahuku.

“Ne-ne..”

“Oh.. Ternyata kau sekolah disini juga ya. Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya,”

Aku hanya tersenyum kecut mendengarnya. Itu karena kau tak pernah memperhatikan orang lain, babo.

“Jiyeon-sshi,” panggilku.

Hening.

“Jiyeon-sshi,” panggilku lagi. Namun, tetap tak ada jawaban.

Kuputskan untuk menoleh sebentar ke arahnya. Dan ternyata.. Gubrak! Yeoja ini tertidur rupanya.

Tapi kalau dilihat-lihat, ia kelihatan beda sekali kalau tidur. Wajahnya sangat damai. Beda dengan perangainya setiap hari. Hidungnya yang memerah, juga membuat ia terlihat sangat manis.

Perlahan kusibakkan rambut yang menghalangi wajah mulusnya, dan menyisipkan di belakang telinganya.
Sekarang aku tahu, kenapa para namja di sekolah ini begitu menyukainya, walaupun ia terlihat begitu galak.
______

Author POV

Drrrt… Drrrt…

Sesuatu bergetar dari bawah bantal Gongchan. Hal itu membuat ia terkejut dari tidurnya.

“Aah.. Apa? Apa yang terjadi ?” Gongchan yang masih setengah sadar, hanya bisa bergumam-gumam tak jelas.

Drrt… Drrt…

Menyadari apa yang sebenarnya terjadi, Gongchan langsung saja mengambil benda itu.

“Yobosseo… Hoahm..” ucap Gongchan, malas.

‘Hya! Kau masih tidur, Shik Gongchan ?’

“Ne. Dan tidurku itu terganggu gara-gara kau !”

‘Masih beruntung aku menelponmu. Coba kau lihat jam berapa ini ?’

Gongchan melirik ke arah jam dindingnya.

“Jam 6 sore,”

‘Dan apa kau lupa pesta prom nite sejam lagi? Meskipun kau itu culun, tapi kau juga harus menghadiri acara penting itu..’ ujar orang di seberang sana, gemas.

“Tenang saja, aku pasti akan datang. Sudah aku tutup dulu teleponnya,”

Klik. Tanpa menunggu jawaban orang itu, Gongchan langsung memutuskan sambungan jarak jauh (?) mereka.

“Sekarang yang harus kucari adalah Hyomin noona,”

Gongchan bangkit dari ranjangnya dan pergi keluar kamar.

Ia pergi ke arah dapur. Dan disana, ia mendapati pemandangan yang tak seharusnya dilihat oleh anak kecil sepertinya (?) *oke, author lebay -.-*

“Noona! Hyung! Apa yang kalian lakukan ?” teriak Gongchan pada Hyomin dan namjachingu yeoja itu, Hyunseung.

“Kau tidak lihat ya? Kami sedang membuat adonan kueeee~” koor Hyomin, ditimpali dengan anggukan-anggukan gaje dari Hyunseung.

“Membuat adonan atau bermain tepung, huh ?” sindir Gongchan.

“Kau ini seperti tidak tahu kami saja, Gongchan-ah..” sahut Hyunseung.

“Haah.. Oke.. Oke. Maaf kalo aku mengganggu acara kalian, tapi sekarang aku mau pinjam noonaku sebentar saja ya..” tanpa basa-basi, Gongchan langsung menarik noonanya ke dalam kamar.

“Ya! Ada apa sih ?” Hyomin berkacak pinggang di depan Gongchan.

“Aku mau minta bantuanmu, noona..” ujar Gongchan memelas.

“Apa ?”

Sebelum menjawab pertanyaan Hyomin, Gongchan terlebih dahulu menghembuskan nafasnya berat.“Noona tahu kan.. Selama setahun ini aku berpenampilan dan bertingkah seperti anak culun-,”

“Ne. Tak usah basa-basi. Langsung to the point saja,” potong Hyomin.

“Oleh karena itu, aku mau……..”
______

Jiyeon POV

‘Jiyeon-ah.. Kau dimana ?’ tanya Hyuna di seberang telepon.

“Aku masih di rumah. Aku sedang menunggu taxi,” sahutku.

‘Ya! Jangan lama-lama! Acaranya akan segera dimulai,’

“Ne. Arraseo,”

Klik. Haah… Kemana taxi itu? Sudah setengah jam ku menunggu, tapi belum datang juga.

Lebih baik ku tunggu di luar saja.

Ku membuka pintu depan dan berjalan ke arah pintu pagar rumahku.

“Cuiit.. Cuiit.. Hai cewek…”

Ih! Siapa sih iseng banget yang godain!

Ku menoleh ke asal suara tersebut. Dan.. Aah.. Ternyata itu dia!

“Ya, Seobbie! Aku tahu aku itu cantik, tapi gak perlu godain kayak gitu juga kali…”

“Iih.. Dasar, kurang ajar! Aku itu lebih tua darimu. Seharusnya kau panggil aku oppa,” omel namja yang sekarang tepat di depanku.

Ku hanya melengos.

“Ngomong-ngomong, si Miss Park ini mau kemana sih? Rapi banget. Pasti mau ke prom nite sekolah kan ?”

“Oppa sok tahu aja. Emangnya oppa juga mau kemana ?” tanyaku melihat penampilannya yang juga sangat rapi.

“Tentu saja aku juga mau ke acara itu. Sudah.. Kau ikut denganku saja. Aku tahu kau tidak ada tumpangan,” ujar Yoseob oppa sambil menepuk-nepuk jok belakang motornya.

Ku sedikit berpikir. Dan akhirnya aku memutuskan untuk ikut dengannya. Lumayanlah, tumpangan gratis.
_______

Author POV

Setelah perjalanan jauh yang sangat melelahkan itu, akhirnya Yoseob dan Jiyeon sampai juga di sekolah tempat acara prom nite diselenggarakan. Kenapa melelahkan? Yaah.. Karena mereka sibuk bertengkar selama itu. Begitulah kebiasaan mereka berdua kalau sudah bertemu. Seperti Tom and Jerry saja.

“Haah… Dasar oppa babo! Aku tadi hampir keserempet mobil tau !” omel Jiyeon saat mereka berdua sudah di parkiran.

“Tadi itu aku cepat-cepat, karena acaranya sudah mau dimulai. Jangan salahkan oppa dong !” balas Yoseob tak kalah kesal.

“Tauk ah! Males berdebat ama oppa !” Jiyeon langsung meninggalkan Yoseob, dan pergi ke arah aula. Disana sudah ada Hyuna dan Hyoyoung, yang setia menunggu Jiyeon di depan pintu. *Kayak satpam aja*

“Hya! Kenapa kau lama sekali, huh? Kenapa juga rambutmu jadi berantakan seperti ini ?? Kau kira kau mau pergi ke kandang sapi, huh ?” omel Hyuna panjang lebar.

“Mian. Tadi taxi-nya tidak datang juga. Dan terpaksa aku harus menumpang pada Yoseob oppa,” jawab Jiyeon yang sudah pasrah dengan keadaannya.

“Sudahlah, Hyunah. Tidak usah mengomel begitu,” timpal Hyoyoung bijaksana. Ia mengeluarkan sisir dan peralatan make up dari dalam tas-nya, kemudian segera memperbaiki tatanan Jiyeon. *udah kayak tukang make up aja, si Hyoyoung*

“Selesai. Sekarang kau tinggal temui saja, Seungho. Dia sudah menunggumu tuh,” ujar Hyoyoung sambil menunjuk tempat keberadaan Seungho dengan dagunya.

“Tapi aku malu, Hyo-ah…”

“Malu.. Malu. Urat malu-mu kan sudah putus. Sekarang pergi sana,” Hyunah mendorong Jiyeon ke tengah aula.

Akhirnya dengan ragu-ragu, Jiyeon mulai melangkahkan kakinya ke arah Seungho. Namun saat sudah disampingnya, ternyata Seungho belum menyadari keberadaannya sama sekali. Seungho sibuk berbincang dengan teman-temannya.

“Eheem…” Jiyeon berdehem cukup keras, sehingga membuat pandangan Seungho teralihkan ke arahnya.

“Waah.. Park Jiyeon. Kau sudah ada disini ?” ucap Seungho berbasa-basi.

Jiyeon hanya tersenyum. Tentu saja! Lalu kau pikir yang di depanmu ini patung lilin, batin Jiyeon.

“Kau cantik sekali,” puji Seungho yang langsung membuat semburat merah di pipi Jiyeon.

“Kau juga manis. Kupikir kau galak, seperti yang sering dibicarakan siswa di sekolah ini.”

Mana mungkin aku bersikap galak pada orang yang ku kagumi, batin Jiyeon lagi.

“Ayo,” Seungho menggenggam tangan Jiyeon, dan mengajaknya ke tengah aula, tempat beberapa pasangan sedang berdansa. Namun belum sampai 5 langkah, tiba-tiba Seungho berhenti. Ia memegang perutnya kesakitan.

“Wae? Wae geurae ?” tanya Jiyeon panik.

“Ssh.. Perutku sakit,” ringis Seungho.

“Kau mau buang air besar ya ?”

“Ne,”

“Sudah. Kalau begitu kau ke toilet saja dulu. Aku akan menunggumu disini,” ujar Jiyeon.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Seungho langsung terbirit-birit keluar dari ruangan, namun masih dengan cara yang anggun (?). *Gimana tuh?*

Dan Jiyeon akhirnya hanya bisa duduk di salah satu kursi kosong di sudut ruangan. Ia memperhatikan orang-orang yang sedang asyik berdansa disana. Ada beberapa mantannya, Park Sanghyun, dan Chunji yang sedang berdansa bersama yeojachingunya. Dan ia mendesis kesal saat matanya menangkap sosok Choi Minho.

“Cepat sekali orang itu menemukan yang baru,”

20 menit berlalu, tapi orang yang ditunggunya sama sekali belum nampak sosok bayangannya di tempat ini.

“Kemana orang itu? Buang air saja lama sekali,” keluh Jiyeon sambil menunduk menopang kepala dengan kedua tangannya.

Hingga tak selang berapa lama, ia melihat sebuah tangan tersodorkan ke arahnya. Ia mendongak untuk melihat siapa pemiliknya.

“Mau berdansa denganku, tuan putri ?”

Jiyeon mengerutkan dahinya saat melihat wajah dan mendengar perkataan orang tersebut.

“Maaf. Tapi aku sudah punya pasangan,” ketus Jiyeon dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Pasanganmu itu sudah pulang 5 menit yang lalu. Sepertinya ia sudah salah makan disini,” ujar orang tersebut, yang langsung membuat Jiyeon kembali menatapnya.

“Jinjja? Haah.. Kenapa nasibku sial sekali hari ini,” keluh Jiyeon.

“So, would you dance with me ?” ajak namja itu lagi sambil menyodorkan tangannya kembali.

Setelah beberapa saat berpikir, Jiyeon akhirnya menyambut uluran itu.“Baiklah. Daripada aku tidak punya pasangan,” ucap Jiyeon lagi-lagi dengan nada yang ketus. Tapi, namja itu menyambutnya dengan senyuman.

Namja itu menggenggam tangan Jiyeon lembut. Membuat wajah Jiyeon yang ada disampingnya, menjadi hangat.

Setelah sampai di tengah aula, namja yang tak diketahui namanya itu langsung memeluk pinggang langsing Jiyeon, dan menuntun kedua tangan yeoja itu untuk memeluk lehernya.

“Sepertinya aku pernah melihatmu. Tapi dimana ya ?” kata Jiyeon sambil memperhatikan erat-erat (?) wajah namja tampan didepannya.

“Jinjja? Ahahaha.. Wajahku ini memang sudah pasaran,”

“Mungkin juga,” balas Jiyeon datar.

“Hey! Boleh aku bersandar di bahumu ?” pinta Jiyeon.

“Ne? Te-terserah kamu saja,” sahut namja itu gelagapan.

Jiyeon menyandarkan kepalanya di bahu namja itu.

Sepertinya aku memang pernah melihat namja ini. Tapi dimana ya? Bahu ini.. Rasanya bahu ini, juga pernah kurasakan. Ayolah, Jiyeon… Berpikir!

Dongsaeng babo! Angkat teleponnya…

Suara itu menghentikan gerakan mereka seketika.

“Ma-maaf. Ini suara ponselku,” ucap namja itu sambil menunduk malu. Ia langsung mengangkat panggilan tersebut, tanpa melihat lagi siapa si pemanggil.

“Ada apa, noona ? Mwo? Haah.. Baik-baik, aku kesana.”

Klik.

“Eng.. Ma-maaf. Bolehkah kau menunggu dulu? Aku harus menemui noona-ku di luar. Tunggu sebentar ya !” namja itu langsung berlari keluar aula, tanpa menunggu jawaban Jiyeon.

“Ya! Kenapa aku ditinggal terus ?!”

“Ck! Mumpung Hyoyoung dan Hyuna sedang sibuk, lebih baik aku keluar saja. Tidak ada gunanya juga aku disini,”

Jiyeon juga ikut-ikutan keluar kelas. Tapi saat di luar, tiba-tiba saja seseorang membekap mulutnya dan menariknya hingga ke arah taman belakang sekolah.

“Ya! Aiissh… Siapa kau?? Lepaskan !!”

“Hai.. Nona Park,”

Jiyeon melengos menyadari siapa yang sudah membawanya sampai ke sini.

“Hya! Apa yang kau lakukan, Choi Minho !?” bentak Jiyeon.

“Ahni-yo. Hanya ingin menanyakan sesuatu,”

“Cih! Bertanya saja sampai membawaku ke sini,”

Minho menyeringai melihat tingkah ketus dari mantan yeojachingunya itu.

“Sebenarnya bukan bertanya, tapi aku ingin…” Minho menarik tangan Jiyeon kasar, dan mendorong tubuh Jiyeon keras ke salah satu pohon.

“Melanjutkan hal yang sempat tertunda saat kau memutuskanku dulu,” sambung Minho di telinga Jiyeon. Membuat yeoja itu bergidik ngeri.

Minho mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Jiyeon. Menyadari apa yang akan dilakukan, dengan sekuat tenaga, Jiyeon berusaha mendorong dan memukul dada Minho.

“Ya! Choi Minho lepaskan !” Jiyeon berusaha melepaskan tangan Minho yang menahan kedua bahunya. Namun dengan gesit, Minho pun menggenggam kedua tangan kecil itu erat dengan kedua tangannya.

“Ya! Hh.. Lepaskan !” teriak Jiyeon lagi. Ia menoleh ke arah lain, saat Minho berusaha mencium bibirnya lagi. Hal itu membuat Minho marah, dan langsung menampar pipi mulus Jiyeon.

“Ssh.. Auh..” ringis Jiyeon.

“Hya! Apa yang kau lakukan ?”

TO BE CONTINUED..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s