Standar

Title : Cold or shy… Boy? (Part 4)

Author : leeyongin (Sry 14 y.o)

Main Cast :

° Park Jiyeon (T-ARA)

° Park Sanghyun/Cheondung (MBLAQ)

Other Cast :

° Lee Ji Eun (IU)

° Lee Taemin (SHINee)

° Ricky (Teen Top)

and other.

Genre : Romance

Rating : PG 15+

Length : Chaptered

Disclaimer : Just own the plot.

A/N : RICKY PUNYA SAYA/plak!

Kali ini author cuma mau bilang maaf lagi… soalnya lama banget postnya u.u

Huhuhuh… aku emang bukan author yang baik T.T

HAPPY REDING AJA READER

N.B : MAAF KALO ADA TYPO (_ _)

___

PREVIEW :

Aigo… Saat tidur pun ia cantik. Ia terlihat benar-benar polos. Seperti malaikat saja.

Ku memandangi mata, hidung, pipi, dan saat tatapanku tertuju pada bibirnya, kenapa pipiku jadi memanas begini.

Bibirnya yang mungil dan berwarna merah itu, benar-benar menggoda.

Tidak apa-apa kan bila aku mengecupnya sebentaaaar saja. Siapa tahu kalau menciumnya lagi, aku akan mendapat kekuatan untuk menyatakan perasaanku.*Dung dung ngasal nih -__-*

Keputusanku sudah bulat. Ku mulai mendekatkan wajahku ke wajahnya. Dekat.. Dekat.. Dekat.. Jantungku semakin tak karuan. Ayolah Sanghyun… Tinggal 3 cm lagi. Dekat.. Dekat..

“Hyaa, apa yang kau lakukan ?”

_______

“Hyaa… Apa yang kau lakukan ?”

Tanpa Sanghyun sadari, Jiyeon telah membuka matanya. Sanghyun terkesiap. Tubuhnya seperti terkunci oleh tatapan Jiyeon.

“A-a-aku cuma mau mengambil bulu matamu yang jatuh. Fuuhh…” Sanghyun asal saja meniup wajah mulus Jiyeon.

“Itu bulu matanya sudah terbang. Hahaha… Aku pergi dulu ya. Hehe…” Sanghyun tertawa garing kemudian segera pergi dari hadapan Jiyeon.

Entah Jiyeon yang kelewat polos atau apa, ia hanya memandangi Sanghyun begitu saja tanpa rasa ada curiga sedikitpun.

“O. Kenapa aku bisa ada di tempat tidur ?”

Jiyeon memutar otaknya, berusaha mengingat-ngingat kejadian beberapa menit yang lalu.

“Apa jangan-jangan aku ketiduran, dan Sanghyun yang membawaku sampai kesini ?”

___

Author POV

Tiiin… Tiiin… Tiin…

Sebuah mobil yang bisa dikategorikan mewah masuk ke dalam halaman rumah keluarga Park yang lumayan besar.

Yeoja yang berada di dalam rumah itu, langsung berlari ke arah pintu saat mendengar bunyi klakson tersebut.

“Huwaaah… Akhirnya ahjumma pulang !” serunya sambil membuka pintu.

Tapi saat dibuka, yang dilihatnya bukanlah Taeyeon ahjumma. Melainkan seorang gadis dewasa dengan umur sekitar 25-an. Rambut panjang bergelombangnya, membuat ia terlihat semakin cantik. Dan kacamata mode yang dipakainya, membuat ia terlihat sangat stylish.

“Bukan ahjumma dan ahjussi,” gumam Jiyeon pelan.

“Anda cari siapa ya, nona ?” tanya Jiyeon ramah.

Belum sempat wanita itu menjawab, tiba-tiba saja Taeyeon ahjumma muncul dari arah garasi.

“Aah… Jiyeon. Terima kasih ya sudah membukakan pintu,” ucap Taeyeon ahjumma.

“Ne-ne, ahjumma.”

“Ayo masuk, Dara. Jiyeon, ahjumma duluan masuk ya Jiyeon,” pamit Taeyeon ahjumma kemudian masuk bersama wanita yang dipanggilnya, ‘Dara’ itu.

Setelah mereka masuk, Jiyeon hendak menutup pintu. Namun tiba-tiba saja, Jungsu ahjussi muncul di hadapannya.

“Hyaaa… Tunggu! Jangan ditutup dulu !”

“OMO! Ahjussi… Mengagetkan saja,” seru Jiyeon.

“Hosh.. Hosh.. Mian.. Mian..” ucap Jungsu ahjussi sambil terengah-engah. Namja paruh baya (?) itu membawa 2 koper besar di kedua tangannya, dan 2 tas kulit yang terlihat sangat berat masing-masing juga bergelantungan di bahunya.

“Aigo… Banyak sekali yang dibawa. Sini aku bantu, ahjussi…” Jiyeon mengambil 2 koper yang ada di tangan Jungsu.

“Gomawo, Jiyeon-ah. Kau memang mengerti kondisi pria tua (?) seperti ahjussi ini. Tidak seperti ahjumma-mu itu,” keluh Jungsu yang hanya mendapat balasan senyuman dari Jiyeon.

“Ini mau dibawa kemana, ahjussi ?”

“Ke kamarmu saja,”

Jiyeon sedikit mengkerutkan dahinya bingung. Apakah yeoja tadi pemilik kamar itu?, batin Jiyeon.

Jiyeon sedikit kesusahan saat membawa 2 koper melewati tangga. Tapi akhirnya mungkin dengan sedikit bantuan dari alam (?), Jiyeon berhasil sampai ke lantai dua.

“Dara.. Ini barang-barangmu,” ujar Jungsu ahjussi saat sudah di dalam kamar. Diikuti dengan Jiyeon di belakangnya.

“Gomawo Appa,” ucap wanita yang dipanggil ‘Dara’ oleh Jungsu ahjussi itu.

“Nah.. Appa dan Eomma ke bawah dulu ya. Kau bereskan dulu pakaianmu. Dan, akrab-akrablah bersama Jiyeon.” ujar Taeyeon ahjumma, kemudian mengajak Jungsu ahjussi turun ke bawah.

Sementara Jiyeon, ia masih tetap disana. Ia memandangi wanita itu, aneh.

‘Aneh. Sudah di dalam kamar, kenapa ia belum membuka kacamatanya. Apa ia punya penyakit mata ?’ batin Jiyeon.

“Ma.. Maaf. Aku juga mau keluar dulu,” permisi Jiyeon. Namun, wanita itu mencegatnya.

“Chamkkaman,”

“Ne ?”

Wanita itu melepas kacamatanya. Dan perkiraan Jiyeon salah besar. Yeoja itu mempunyai mata yang indah. Beda dengan anggapan Jiyeon.

“Jadi kau yang menempati kamarku ini? Siapa namamu ?” tanya wanita bernama Dara itu, datar. Hal itu, membuat Jiyeon sedikit takut.

“Ji-Jiyeon. Park Jiyeon imnida,”

“Ooh.. Jiyeon. Gomawo,” ucap Dara.

“Gomawo? Gomawo untuk apa ?” tanya Jiyeon bingung.

“Gomawo karena sudah menempati kamarku. Kalau tidak ada yang menempati, pasti kamar ini sudah seperti gudang debu.” ujar Dara sambil menyunggingkan senyum di bibir tipisnya.

“Cheonmaneyo, ….”

“Dara. Sandara,”

“Ne. Cheonmaneyo, Dara-sshi,”

“Tidak usah canggung seperti itu,” Dara menepuk bahu Jiyeon cukup keras.“Panggil saja aku, Eonni. Ara ?”

“Ne, Eonni..”

“Nah, gitu dong. Mulai sekarang kita kan sudah menjadi teman sekamar. Ngomong-ngomong, kau melihat Sanghyun ?”

“Sanghyun? Mungkin dia ada di kamarnya.” sahut Jiyeon.

“Jinjja? Kalau begitu, Eonni kesana dulu ya..”

“Ne,” angguk Jiyeon kecil.

Dara membuka pintu kamar, dan masuk ke dalam kamar Sanghyun.

“Ternyata dia orang yang baik,” gumam Jiyeon.

“Tapi, sepertinya dia seperti Sanghyun. Pada awal, sepertinya sangat dingin. Tapi ternyata, orangnya sangat ramah. Ckck.. Keluarga aneh,”

_________

Sanghyun POV

Aigo… Apa yang ku lakukan tadi? Bagaimana kalau ia menyadarinya, dan ia malah membenciku. Ck! Sial. Kenapa juga aku sampai terbawa perasaan (?)

Arrggh…!! Siapa juga yang pada berisik di bawah!

Ku semakin menekan kepalaku dengan bantal empuk berbulu angsa yang baru saja di bawa Eomma sebulan lalu dari Prancis. #Lebay deh Nder -_-

“Park Sanghyun! Ayo bangun !”

Suara itu.. Sepertinya ku kenal. Aigoo! Jangan-jangan itu..

“Ya! Park Sanghyun !”

“Aigoo! Noona.. Sedang apa kau disini ?”

“Memang kenapa? Aku tak boleh disini ?” bentaknya. Aigoo… Yeoja ini tidak pernah berubah.

“Aish.. Bukan begitu maksudku. Kapan kau pulang ?” tanyaku.

“Barusan,” ucapnya singkat sambil mengambil sebuah pensil di mejaku. “Dan hanya kau yang tidak menyambutku !”

Pletaaak!

“Aaw… Noona! Bisakah kau tidak melemparkan barang-barang ke arahku? Ssh…”

“Tidak. Itu memang sudah hobiku,” sahutnya santai. Aish… Yeoja ini.. Kalau bukan Noonaku, sudah kubantai dia ! *emang berani loe, Nder?*

“Kekeke..”

Siapa yang tertawa itu? Eo… Aigoo!

“Jiyeon? Ada apa ?” ucap Noona-ku.

“Keke.. Eung.. Ahjumma menyuruhku untuk memanggilmu. Hanya itu. Permisi. Keke…”

Masih bisa kudengar suara tertawaan Jiyeon, walaupun yeoja itu sudah pergi. Haah… Aku malu sekali..

“Ya! Kenapa kau menutupi wajahmu dengan bantal ?” teriak Dara Noona.

“Ahni-yo. Tidak apa-apa,” sahutku yang masih menutupi wajahku dengan bantal empuk berbulu angsa yang baru saja dibawa Eomma sebulan lalu dari prancis *Reader : Banyak bacot !*

Sreeeg! *bayangin aja nih suara bantal ya reader* Noona tiba-tiba saja menarik bantal itu.

“Haha… Wajahmu kok jadi merah begitu? Kau suka ya sama Jiyeon ?” ujar Noona sambil menoel-noel wajahku.

“Ck. Aku bukannya suka. Aku malu,” ucapku tanpa menatapnya sedikitpun.

“Malu karena suka, huh ?”

“Sudahlah Noona, tidak usah menggangguku terus! Aku sudah bukan adik kecilmu yang suka digoda terus! Sekarang lebih baik kau keluar saja !” entah darimana aku dapat kekuatan untuk membentaknya seperti ini. Aku yakin sekarang juga, ia pasti akan balas memarahiku.

Tapi, ternyata tidak. Noona hanya diam dan malah menatapku aneh.

“Kenapa kau jadi marah seperti ini? Kau seperti yeoja yang sedang datang bulan saja. Baiklah… Noona akan pergi,” ujarnya kemudian segera keluar dari kamar?

Mwo? Yeoja yang sedang datang bulan? Aissh… Dasar.

________

Jiyeon POV

Bed Time! Ini saatnya tidur. Haah… Tidak terasa kalau sudah 6 malam aku tidur di kamar ini. Ini artinya, besok adalah malam terakhirku disini. Pasti banyak yang akan ku rindukan.

Ku membereskan peralatan belajarku, dan memasukkannya ke dalam tas.

Ckleeek. Tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka.

“Eonni ?”

“Kau belum tidur ?” tanya Dara Eonni.

“Belum. Aku sedang membereskan alat tulisku,”

“Oh,” sahutnya kemudian naik ke atas tempat tidur.

“Kau belum mau tidur? Kenapa berdiri di situ terus ?”

“Aah.. Ne,” dengan sedikit canggung, aku berjalan dan membaringkan diriku di atas ranjang. Ini pertama kalinya aku tidur, dengan orang-yang-belum-terlalu-ku-kenal.

“Kau mau ngobrol sesuatu dulu sebelum tidur ?” tanyanya.

“A-ahni. Tidak ada,”

“Tapi aku ingin ngobrol denganmu. Eung… Kau pacaran dengan Sanghyun ya ?”

“Mwo? A.. Ahni.. Ahni.. Mana mungkin,”

Ngarang nih, Noona-nya Sanghyun. Sanghyun kan sudah punya Krystal, mana mungkin ia pacaran denganku.

“Oh.. Kirain,” tersirat sedikit raut kekecewaan di matanya.

“Eonni.. Aku ingin tanya padamu,”

“Apa? Apa ?” ia terlihat penasaran dengan ucapanku. Mungkin ia memang ingin ngobrol.

“Semenjak pertama kali aku mengenal Sanghyun, aku rasa ada yang aneh padanya. Sepertinya dia punya dua kepribadian,” ujarku.

“2 kepribadian? Seperti apa ?”

“Pada awalnya, Sanghyun selalu bersikap dingin padaku. Begitu pula dengan anak-anak di sekolah. Tapi.. Akhir-akhir ini, ia jadi ramah padaku. Aku bingung,”

“Oh… Itu. Kalau itu sih, Eonni tahu masalahnya,” ucapnya sambil menatap langit-langit.

“Apa? Ceritakan padaku, Eonni..” tanpa sadar, ku memelas sambil menarik-menarik piyamanya. Dara Eonni melirik padaku sambil tersenyum. Ups! Jangan sampai ia berpikiran aneh.

“Keurom. Eonni akan menceritakan semuanya,”

“Sanghyun orangnya memang seperti itu. Pada dasarnya, ia itu pemalu. Tapi, sikap malunya itu sudah berlebihan. Ia sampai tak mau bicara dengan orang dan raut wajahnya jadi terlihat sangat dingin. Ia baru akan bersosialisasi dengan orang, kalau ia sudah mengenalnya lama atau ia merasa nyaman dengan orang tersebut.” ujar Dara Eonni panjang lebar.

Ooh… Begitu. Pantas saja ia bersikap seperti itu di sekolah. Ternyata, ia pemalu. Kekeke..

“Dan satu lagi. Ia punya expresi yang buruk saat dekat dengan yeoja yang ia sukai. Kalau ia menatap yeoja itu.. Seakan-akan ia akan memakannya. Tatapannya sangat dingin. Padahal itu hanya efek dari rasa malu dan kegugupannya. Ia juga akan langsung keringat dingin pada saat itu,”

Tatapan dingin? Berkeringat? Saat dekat dengan yeoja yang ia suka? Jangan-jangan… Ah, ahni! Tidak mungkin!

“Tidak mungkin,” gumamku.

“Waeyo ?”

“Eung.. Ahni.. Ahni. Gwaenchanayo,”

“Oh. Oh ya, Eonni kan sudah menceritakan semuanya padamu. Sebagai gantinya, besok kau temani Eonni jalan-jalan ya ?” tawarnya.

“Jalan-jalan? Tentu saja. Aku mau,”

Dara Eonni tersenyum sambil menaikkan selimut sampai di atas dadaku. “Sekarang saatnya kau tidur. Pulang sekolah, Eonni akan langsung menjemputmu.”

“Ne,” sahutku sambil mengangguk kecil.

Ku membalikkan badanku ke arah lainnya, dan tak berapa lama mataku langsung terpejam.

_________

Author POV

“Huaaaah… Lelahnya !” Jiyeon menyandarkan tubuhnya di pohon yang rindang sambil mengipas-ngipaskan buku, sekedar untuk melepas penat.

“Siapa suruh kau bermain dengan Suzy tadi saat Yoochun songsaenim mengajar olahraga. Jadinya kalian disuruh keliling lapangan. Srupp…” ujar Jieun sambil menyeruput Orange Juice-nya.

“Haah… Iya juga sih. Sekarang dimana Suzy ?” tanya Jiyeon.

“Sedang bersama namjachingu-nya tercinta. Siapa lagi? Tuh..” Jieun mengarahkan dagunya ke arah sepasang kekasih yang sedang berbagi minuman dengan mesranya.

“Oh,” ucap Jiyeon singkat. Ia sudah biasa saja kalau melihat Minho dan Suzy. Karena, ia sudah tak punya perasaan lagi pada namja itu. Itu karena seseorang tentunya.

Jiyeon mengalihkan tatapannya pada kotak Orange Juice yang ada di genggaman Jieun. Ia menelan ludah ketika buliran-buliran air jatuh dari atas kotak tersebut.

“Jieun-ah… Aku mau Orange Juice-mu dong. Aku haus..” pinta Jiyeon, yang langsung dibalas dengan juluran lidah dari Jieun.

“Jebal… Kau ini sombong sekali,” rengeknya.

“Shirreo! Beli saja sendiri,” tolak Jieun.

Jiyeon cemberut manyun mendengarnya. Jieun jadi kasihan melihatnya. Sebenarnya, ia hanya ingin mempermainkan Jiyeon saja. Jieun ingin memberikan minuman tersebut. Namun terlambat, karena orang lain sudah menyodorkannya terlebih dahulu.

“Igeo. Kau pasti haus kan ?”

Jiyeon mendongak kepada ‘pahlawan kehausan’-nya di siang bolong itu.

“Ne. Aah.. Gomawo, Taemin-ah. Ayo duduk di sampingku,” tawar Jiyeon dan dengan senang hati, Taemin menerimanya.

“Gluuk… Aah.. Mashitta !” seru Jiyeon.

“Haha.. Kau seperti Shin Min-Ah di dramanya yang Gumiho, Gumiho itu loh..” ujar Taemin.

“Jinjja ?”

“Ne. Tapi, kau lebih cantik darinya. Kau kan Jagiyaku..” godanya.

“Jagiya.. Jagiya.. Sekali lagi kau berkata seperti itu, ku masukkan kaleng ini ke dalam mulutmu !” ancam Jiyeon.

“Mianhae..” ucap Taemin yang lebih bermaksud untuk menggertak.

“Yak! Bisakah kalian berdua diam! Aku sedang menelfon dengan Wooyoung oppa !” teriak Jieun yang langsung membuat dua ‘anak kecil’ berusia 17 tahun itu terdiam.

“Kalau Jieun sudah marah, tak ada yang bisa membantahnya.” gumam Taemin yang dibalas anggukan oleh Jiyeon.

Selama Jieun menelfon, Taemin dan Jiyeon hanya bisa meringkuk diam. Sampai kedua bola mata, mendapati sosok yang dikenalnya tengah melewati mereka bertiga.

“Ricky-ah !” panggil Jiyeon pelan. Nanun bisa membuat sosok bernama Ricky itu menoleh.

“Noona? Sedang apa disini ?” tanya Ricky.

“Hanya duduk-duduk saja. Oh ya, Noona ke rumahmu ya besok ?”

“Ke rumahku ?” Ricky sedikit berpikir. Namun, sedetik kemudian ia mengangguk setuju.

Ricky mengalihkan pandangannya ke arah Taemin. Ricky menatapnya tajam dan dingin, seolah ingin menerkamnya. Sedangkan Taemin, hanya mengangkat alisnya, bingung dengan tatapan Ricky.

“Keurom. Kalau begitu, aku pergi dulu, Noona. Annyeong,” Ricky tersenyum manis, kemudian berjalan lurus ke arah gedung sekolah.

“Dia siapamu, Jiyeon ?” tanya Taemin.

“Dia.. Teman yang sudah kuanggap adikku sendiri. Wae ?”

“Ahni. Hanya saja… Ia aneh,”

________

Teeeng… Toong.. Teeng… Toong…

Bel pulang sekolah berbunyi. Jiyeon buru-buru membereskan peralatannya, dan segera keluar gedung sekolah. Kenapa? Karena sudah ada yang menunggunya. Dan benar saja. Di luar gerbang sekolah, sudah ada Dara di dalam mobilnya, yang rapi terpakir disana.

“Maafkan aku, Eonni. Eonni pasti sudah lama ya disini ?” ucap Jiyeon saat sudah ada di dalam mobil.

“Tidak juga. Sekarang kita mau kemana ?”

“Em.. Bagaimana kalau kita makan dulu ?” usul Jiyeon.

“Makan? Boleh juga. Kkaja !”

_________

Sanghyun POV

“Roly Poly.. Roly Roly Poly..”

Haha.. Kalian tahu apa yang kulakukan sekarang? Aku sedang bernyanyi sambil menirukan dance Roly Poly dari Girlband T-ARA. Itu yang sering kulakukan kalau sedang bosan seperti ini #Jangan sampe Dung Dung beneran kayak gitu ><

Member favoritku adalah, Park Jiyeon. Dia sangat cantik dan lucu. Wajahnya seperti Jiyeon-ku (?). Namanya juga.

Tok.. Tok.. Tok, pintu kamarku berbunyi. Ku membuka pintu setelah sebelumnya mematikan TV-ku.

“Ada apa, Eomma ?”

“Ada yang mencarimu dibawah,”

“Nugu ?” “Kau periksalah sendiri. Eomma mau belanja dulu,”

“Ne,”

Ku berjalan mengikuti Eomma sampai ke lantai bawah. Namun langkahku tercekat, saat melihat orang yang sedang duduk disana. Benarkah itu dia?

_________

Author POV

“Unnie.. Tadi itu menyenangkan sekali. Aku sampai lupa kalau sudah jam segini,” celetuk Jiyeon sambil membuka pintu mobil.

“Jinjja? Kalau begitu, kapan-kapan kita jalan2 lagi,” sahut Dara diiringi dengan segaris senyuman di sudut bibirnya.

“Ayo kita masuk,” sambil memegang tangan Jiyeon, Dara membuka pintu rumah milik orangtuanya tersebut.

Senyuman masih bertengger di bibirnya, sampai ia melihat sesuatu, yang membuat senyumnya memudar.

“Annyeong haseyo,” sapa seorang yeoja yang tengah duduk bersama Sanghyun di ruang tamu.

Dara menatapnya datar. Namun sedetik kemudian, ia sudah mengalihkan pandangannya ke arah Sanghyun. Sedetik kemudian lagi, sudah kembali pada yeoja tersebut.

“Annyeong,” tanggap Dara singkat. “Buat apa kau kesini ?”

“Ia hanya menemuiku sebentar, Noona.” sahut Sanghyun.

Dara menatap dongsaengnya itu, tajam. Namun sekilas kemudian, ia sudah mengalihkan tatapannya pada Jiyeon.

“Ayo, Jiyeon. Kita ke atas saja,” ucap Dara sambil menarik Jiyeon ke lantai atas.

Yeoja yang sedang bersama Sanghyun itu, hanya menatap mereka pergi sambil tersenyum pahit.

“Tujuan Noona datang kesini, untuk apa ?” tanya Sanghyun memecah keheningan.

“Ah. Hanya ingin menemui kalian saja. Hehe..”

“Yakin? Tidak ada maksud lain ?” desak Sanghyun.

Yeoja tersebut sedikit terhenyak. Perkataan namja tersebut terdengar sangat dingin. Beda, saat terakhir kali mereka bertemu.

Namun, yeoja tersebut tetap tersenyum seraya menghela nafasnya panjang.

“Instingmu tetap tajam seperti dulu. Sebenarnya.. Memang ada yang ingin Noona katakan pa-,”

“Katakan saja,” potong Sanghyun cepat.

Yeoja itu terdiam. Sanghyun memang sudah berubah terhadap dirinya. Namun ia sadar, semua ini memang salahnya. Salahnya yang mungkin sudah membuat Sanghyun seperti ini. Ia yang sudah membuat Sanghyun kecewa. Jadi, ia tak bisa menyalahkan namja itu dengan sikapnya.

“Kau tidak mau mendengarkannya dengan baik. Noona akan kirimkan saja, apa yang ingin Noona katakan lewat Pos. Annyeong,” setelah permisi, yeoja itu langsung saja pergi.

Sanghyun menatapnya datar.“Cih. Kenapa tidak katakan saja sekarang. Buang-buang waktu saja,”

_________

“Kau masih menyukainya ?”

“Ahni,”

“Jangan bohong. Noona tahu gelagatnu seperti apa,”

“Memangnya kalau aku bersikap dingin, itu berarti aku masih menyukainya ?”

“…..”

________

Jiyeon POV

Kira-kira yeoja itu siapa ya? Apa dia temannya Sanghyun? Sepertinya mereka bicara sangat serius. Apa jangan-jangan dia punya hubungan khusus dengan Sanghyun? Loh. Kenapa malah aku yang jadi bertanya-tanya seperti ini? Whatever-lah! Lebih baik selesaikan dulu pekerjaanku ini.

Ku mengemas barang-barangku satu persatu masuk ke dalam koper. Kenapa? Karena aku pulang malam ini. Appa dan Umma sudah sampai di Korea 30 menit yang lalu. Dan dari bandara, mereka akan langsung menjemputku. Aku pasti akan sangat merindukan semua yang ada dirumah ini. Termasuk juga, Sanghyun. Tapi, tenang saja.. Aku bisa bertemu dengannya setiap hari di sekolah.

“Jiyeon. Apa yang kau lakukan ?”

“Ah, Eonni. Aku lupa memberitahumu. Aku akan pulang malam ini,” sahutku sambil tetap bergumul dengan koper yang ada di depanku.

“Wae? Apa gara-gara Sanghyun ?” cetusnya.

“Sanghyun? Ahni… Aku memang hanya seminggu saja di sini. Orangtuaku akan menjemput-ku sebentar lagi,”

“Jinjja? Padahal.. Eonni kan masih ingin ngobrol banyak denganmu. Jarang-jarang, Eonni ada teman tidur seperti ini..” keluhnya.

“Kita kan bisa bertemu kapan saja, Eon.” ucapku berusaha menghibur.

“Baiklah.. Oh ya! Eonni ada sesuatu untukmu,” ia beranjak membuka lemarinya, dan mengeluarkan beberapa tas belanjaan dari dalamnya.

“Ini apa ?” tanyaku sambil sedikit mengintip isi tas itu.

“Itu oleh-oleh dari Amerika. Awalnya, Eonni bermaksud memberikannya pada Umma. Tapi kalau dilihat-lihat, Umma-ku tidak cocok memakai ini. Kau ambil saja,”

“Jinjja? Waah.. Gomawo,”

“Ne,”

Tiin… Tiin…

“Wah. Itu pasti Umma dan Appa,” ku segera menutup koper dan menurunkannya dari atas tempat tidur.

“Cepat sekali mereka datang,” dengusnya. “Haah.. Ayo. Kuantar kau ke bawah,”

Sesampainya di bawah ternyata Appa dan Umma sedang berbincang dengan Ahjumma dan Ahjussi.

“Jiyeon! Appa kangen padamu !” tiba-tiba saja Appa-ku bangkit dari duduknya dan berlari memelukku.

“Ada apa sih, Appa? Tidak usah berlebihan. Kita kan hanya minggu saja tidak bertemu,” perlahan ku melepaskan pelukan Appa-ku. Aku rasa, ini memalukan untuk dipertontonkan pada orang lain.

“Anak Appa makin cantik saja,” pujinya sambil menyubit kecil pipi-ku.

“Maafkan suamiku. Dia memang seperti itu kalau sedang bersama Jiyeon. Dia lebih menyayanginya daripada aku,” ujar Umma bermaksud menujukan itu kepada Ahjumma dan Ahjussi.

“Gwaenchana. Kalau punya anak gadis, sebaik dan secantik itu, Ayah mana yang tak akan begitu menyayangi dan melindunginya? Aku juga seperti itu.” sahut Jungsu ahjussi.

“Itu memang betul. Haha,” timpal Appa-ku.

“Ne. Heem.. Baiklah. Jungsu.. Taeyeon.. Terima kasih karena sudah menjaga Jiyeon. Kami tidak tahu, bagaimana jadinya dia kalau kami tinggal sendiri di rumah,” ujar Umma.

“Gwaenchana. Kami malah senang dia ada disini,” sahut Ahjumma.

“Baiklah. Kalau begitu, biar kami antar kalian sampai ke depan.”

Setelah Jungsu ahjussi berkata begitu, Appa-ku langsung mengambil alih koperku, dan kami semua beranjak ke teras depan.

“Terima kasih, semuanya. Kalau aku ada waktu, aku akan sering-sering mengunjungi kalian.”

Ku membungkuk dalam pada mereka sebagai tanda trims. Tapi entah sejak kapan, saat ku tegakkan kembali badanku, Sanghyun sudah berada di antara mereka.

“Ne. Sering-seringlah datang kemari. Nanti, Eonni akan mengajakmu jalan-jalan lagi !” papar Dara Eonni.

Ku mengangguk sambil tersenyum kecil.

Bisa kurasakan saat itu, Sanghyun tengah memandangiku. Namun saat ku meliriknya, ia sudah mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kenapa? Apa dia juga tak mau mengucapkan salam perpisahan.

“Ayo Jiyeon,”

“Kalau begitu aku pergi dulu semuanya. Annyeong,”

Sampai aku masuk dalam mobil pun, Sanghyun tak mengatakan sekatah apapun. Padahal aku sangat berharap ia mengatakan sesuatu. Setidaknya, seperti itu.

_________

Sanghyun POV

A Days Later…

Kenapa aku tak bersemangat seperti ini? Bangun dari tempat tidur pun, rasanya aku enggan. Coba saja kalau ada Jiyeon, pasti aku akan lebih bersemangat. Aku tidak berbohong. Karena ini hari minggu, mungkin saja aku akan mengajaknya jalan. Tapi, sayangnya ia sudah pulang. Itupun hanya ‘mungkin’. Karena aku tak tahu, aku punya keberanian untuk mengajaknya atau tidak.

Deert… Deert… Suara getaran dari atas meja sedikit mengagetkanku. Ku mengambil benda elektronik penghasil dari getaran itu.

“Yobosseo ?” ucapku malas.

‘Kau masih tidur, huh ?’

“Noona? Kenapa menelpon? Kita kan masih di bawah satu atap,”

‘Aku malas jika harus menghampirimu di atas lagi. Aku sedang membantu Umma di dapur. Ada paket untukmu. Kau ambil saja sendiri,’

“Ck. Baiklah,”

Dengan malas-malasan ku turun dari atas ranjang dan keluar kamar. Benar saja. Sesampainya di bawah, ada sebuah paket teronggok begitu saja di atas meja. Tapi itu bukan seperti paket. Melainkan seperti surat yang cukup besar. Dengan cepat ku mengambil dan membukanya.

Hatiku seperti di lemparkan dengan sebuah batu yang sangat besar, saat membaca ini. Apa-apaan ini? Jadi ini yang mau ia katakan kemarin?

________

Jiyeon POV

Ting Tong Ting Tong

Ku memencet bel rumah yang sudah tak lama kulihat ini. Sejak aku pindah dari kawasan ini 2 tahun yang lalu, tak ada yang berubah. Bahkan bekas rumah ku pun yang ada di sebelah, tetap sama seperti dulu. Walaupun hanya warna cat-nya yang berubah.

Tak lama pintu terbuka. Seorang namja dengan penampilan rumah biasa, berdiri di depanku walaupun masih malas-malasan.

“Noona? Sedang apa Noona disini ?” tanyanya, cukup kaget.

“Kau lupa ya? Noona bilang kan, Noona akan ke rumahmu hari ini.”

“Oh, iya juga. Ayo masuk,”

“Orangtuamu dimana, saeng ?” tanyaku sambil memperhatikan furniture-furniture yang terpajang di ruangan ini.

“Mollaseo. Oh ya, Noona mau minum apa ?”

“Apa saja,”

“Baiklah. Tunggu sebentar,” ia berjalan ke arah dapur. Sedangkan aku, mengamati foto-foto yang terpajang di dinding rumah. Hingga pandanganku terfokus pada salah satu pintu, bertuliskan ‘Ricky’s Room’.

Iseng-iseng ku masuk ke kamarnya. Gaya kamarnya sudah sangat berbeda. Sudah tak ada lagi, mainan berserakan di lantai. Yang ada hanyalah kumpulan komik dan tongkat baseball di sudut ruangan. Aku sadar dia sudah bukan adik kecilku lagi. Dia sudah anak SMA sekarang.

Ku berjalan mendekat ke arah tempat tidurnya. Ku mengambil figura yang terletak di atas meja, di sampingnya.

“Astaga… Ini kan aku. Kenapa dia mengoleksi fotoku? Keke..”

Ku menaruh kembali figura itu di atas meja. Ku kembali berdiri dan mengelilingi kamar ini. Dan entah aku yang baru sadar atau apa, di salah satu sisi kamar terdapat banyak sekali foto-foto yang tertempel.

Ku memperhatikan dengan seksama. Sepertinya aku mengenal wajah ini… A.. Astaga… Ini semua kan.. AKU!?

Foto ini.. Ini kan saat aku dan Taemin ada di taman bioskop.. I-ini.. Saat aku ada di halaman sekolah…

Ku membekap mulutku. A.. Aigo… Apa jangan-jangan Ricky yang…

“Aku tidak menyuruh Noona untuk masuk ke kamarku..”

TBC ~

Okeeeeh deehhh…….. aku gak bakal bannyak ngomong .__.

Keep coment readers ^^

Kalau ada yang gag suka, author juga menerima kritik ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s